Sapaan Ego

Dini hari selepas meditasi
Ego menyapa diri
Lama tak bersua
Makin sombong aja katanya

Bukan apa-apa
Perlu menepi juga kadangkala
Menata jiwa
Tak sesederhana logika

Lalu balik kutanya
Apa kabar juga?
Dia tertawa ‘kabarnya baik-baik saja’
Hingga akhir napas demikian adanya;

Keberadaan ego yang jadi pembeda
Memohon bisa jadi berasa meminta
Meminta bisa jadi berasa memaksa
Memaksa bisa jadi berasa menyita

Memang itu kodrat
Makhluk bernama manusia
Mereka yang merasa bisa
Belum tentu bisa merasa…

Tertanda,
Ego

Advertisements

Ketulusan Hati

Ketulusan hati…
Katanya bijak bestari
(pastinya hanya berlaku untuk dia sendiri)

Ia terbebas dari…
Rasa suka dan rasa benci
Rasa pamrih ingin dipuji
Rasa sakit hati dan tak peduli
Rasa ingin menang sendiri
Rasa ingin memiliki
Rasa tak rela ‘sang milik’ pergi

Terbebas bukan berarti…
Ia tak punya rasa suka dan rasa benci
Atau tak tampak rasa pamrih ingin dipuji
Atau tak hadir rasa sakit hati dan tak peduli
Atau tak muncul rasa ingin menang sendiri
Atau tak memiliki rasa ingin memiliki
Atau tak ada rasa tak rela ‘sang milik’ pergi

Terbebas, katanya lagi…
Adalah bila sang bijak bestari
Detik itu sadar lalu jadi pemerhati
Pemerhati yang hati-hati
Semua yang terjadi dalam akal dan hati
Bahwa ia bukanlah semua drama rasa tadi
Yang penuh label ukuran duniawi

Terbebas, tambahnya sekali lagi
Adalah ia yang sadar, ingat, dan kembali
Seperti belajar pulang setiap hari
Dari pengembaraan pikiran yang majasi
Pulang ke ada, berada, dan keberadaan diri
Yang senantiasa hadir hakiki

Sampurasun 🙏
#RenunganPagi

Non-Duality in Coaching

Native of eternity.
At home in infinity.
Breathing immortality.
Let these words sing in every entity.

Abundance of splendor and amity.
Luminous energies of multiversity,
Meditate on them continually,
Let the impulses ripple through you perpetually.

Vijnana Bhairava Tantra

Potongan tantra atau mantra pembuka di atas adalah refleksi dari persona pribadi yang merasakan penuh energi saat memulai sebuah sesi kepamongan bersama cantrik yang memulai agendanya dengan kalimat “saya tidak tahu…”, menjawab pertanyaan tujuan/ sasaran juga dengan kalimat “saya tidak tahu…”, dan puluhan kalimat serupa lainnya.

Kalimat ketidaktahuannya kontras dengan tubuhnya yang tak nyaman, enggan untuk diam dalam ketidaktahuan, seolah antara jiwa dengan raganya terjeda jarak harapan dan realitas, terperangkap dalam norma dan dogma dualitas, menjadikan kata dan gesturnya enggan selaras.

Dalam pertemuan yang penuh keluasan kesadaran itu, pikiran sang cantrik senantiasa mencari jawaban benar-salah, mengeksplorasi berbagai kemungkinan berdasarkan suatu ukuran, ukuran dirinya atau ukuran orang lain yang berpengaruh padanya.

Kadang kala kata dari jiwanya muncul di sela-sela cerita, lepas dari ukuran benar-salah, hanya menyajikan dirinya yang utuh dan pasrah. Di titik itulah pikiran sang cantrik mulai tertata, bahasa tubuhnya yang tadinya bergelora kini jadi sentosa.

Di titik non-dualitas itu, makna yang tersaji bukanlah majasi tetapi hakiki, sudut pandang yang terbuka tidak lagi sepotong sebahagian namun telah bersatu dalam keseluruhan, nilai yang terbawa bukan lagi tentang dirinya, namun tentang misi yang jauh lebih mulia.

Di tepian persimpangan kebimbangan itu, sang cantrik mulai tersadar bahwa ia tengah mencipta drama gundah gulana, mengamati dirinya terbajak oleh sang hawa (pikiran, emosi, dan egonya).

Di persimpangan polaritas itu, bermunculan inspirasi entah dari mana. Dari mulutnya meluncur kata-kata yang walau sederhana tetapi menyiratkan kerinduan akan dirinya yang bebas merdeka. Merdeka dari penghakiman dan perbandingan, merdeka dari rasa sesal masa lalu dan rasa khawatir masa depan. Dirinya hadir utuh berada di sini, pikirannya sadar penuh hanya untuk saat ini.

Sampurasun 🙏
#RenunganMinggu

TRAIN-Formation, TRAIN-for-NATION

Curiousity – Compassion – Courage – Creativity

Perkenankan saya berbagi pembelajaran untuk saya pribadi selepas mengikuti sesi berbagi dari Pak Wimbo Hardjito eks Direktur PT KAI tadi malam mengenai transformasi KAI dari yang sebelumnya semrawut menjadi sangat tertata:

CURIOUSITY (keingintahuan) adalah gerbang pembelajaran, dari Pak Wimbo saya belajar untuk senantiasa ingin tahu dengan cara bertanya apa yang dapat dilakukan lebih baik saat menemui sebuah situasi yang belum memanusiakan manusia.

COMPASSION (welas asih) adalah penggerak dalam bertindak, dari Pak Wimbo saya belajar bahwa pengharkatan kepada manusia-manusia yang berhak dengan selayaknya adalah sumber energi pengabdian yang tiada habisnya

COURAGE (keberanian) adalah awal dari perubahan, dari Pak Wimbo saya belajar bahwa setiap hari adalah hari yang membawa pengalaman berbeda, dan di tiap detik di hari itu; sepenuh perhatian dicurahkan untuk mewujudkan impian yang dicitakan.

CREATIVITY (karya beda) adalah buah dari kesatuan pikiran, perasaan, dan tindakan. Dari Pak Wimbo saya belajar bahwa karya yang jadi pembeda bersumber dari kepasrahan kepada Tuhan; Dunia hanyalah persinggahan, tempat belajar pulang sebelum dipanggil pulang.

Dari semuanya, saya belajar untuk mendengar. Mendengar tidak hanya dengan telinga, tetapi juga dengan seluruh jiwa dan raga…

Teruntuk Ki Resi Guru Wimbo Hardjito
Terima kasih
Terima kasih
Terima kasih

🙏🙏🙏

Sampurasun
#RenunganSubuh

Human Nature Development Design

If Knowing = 10%, Socializing = 20%, Doing = 40%.
Knowing + Socializing = 20%.
Knowing + Doing = 40%.
Socializing + Doing = 50%.
Knowing + Socializing + Doing = 60%.
Then.. How the hell can we make it 100%?
Also… Did this guy who create this formula even pass elementary school?

Social Calculation of Human Potential Generation

Seorang rekan coach berbagi ilmu mengenai potensi manusia dan bagaimana proses perkembangan dan pengembangan potensi tersebut selaras dengan passion, mission, profession, dan vocation. Pengembangan potensi secara terstruktur (misalnya dalam setting organisasi) melalui training (understanding content), sharing/mentoring (finetuning concept), dan doing (implementing context) ternyata (berdasarkan riset yang beliau dapatkan) belumlah cukup untuk membangkitkan potensi manusia seutuhnya, paling banter hanya mampu mengangkat 60% dari keseluruhan potensi (kurang lebih mewakili ROLI 67% di tulisan sebelumnya)

Kalkulasi Sosial di atas bukan tanpa teori, sudah lama kita mendengar istilah 70:20:10 Development Model (McCall, Lombardo, & Eichinger), namun saya sering salah memahaminya sebagai sebuah proporsi (waktu, fokus, dampak, atau intensitas), atau sebagai sebuah persamaan (dengan total pencapaian 100% bila semua efektif dilakukan), padahal ternyata di era digital ini, model tadi telah berevolusi menjadi sebuah sistem interaksi logika (A mempengaruhi B sekian banyak, B mempengaruhi A dan C sekian banyak, C mempengaruhi B,… dan seterusnya dengan kondisi dan prakondisi yang juga merupakan variabel), mungkin teman-teman matematikawan atau system thinker lebih dapat menuangkan model sistem interaksi logika tadi dalam bentuk formula yang lebih appealing.

Yang paling menarik dari evolusi model 70:20:10 adalah; pada elemen 20% yang sebelumnya mencantumkan sharing, mentoring, coaching, interaction, experience exhange, pada kenyataannya dampak sharing, mentoring, coaching, interaction, experience exhange berbeda antara satu dengan lainnya, dan tidak dapat dikuantifikasi maksimal berdampak 20%. Bahkan diidentifikasi, coaching merupakan elemen 30% dari model baru 10:20:40:30 (Human Nature Development Model), yang bilamana interaksi coaching absen, maka potensi yang tergali hanya 60% walaupun, content, concept, dan content sudah terserap dengan baik. Sementara bila coaching secara efektif mampu memprovokasi, maka potensi yang tergali tidak lagi sebesar 100%, namun potensi yang muncul adalah tanpa batas (infinite)

Riset ICF mengenai efektivitas coaching sepertinya perlu direvisi. Proses coaching pada faktanya merupakan being atau jiwa dari knowing, socializing, dan doing, dengan kata lain proses coaching merupakan connotation atau makna dari content, concept, dan context sebuah pembelajaran, dan proses coaching merupakan fitrah inheren, poten, dan laten dari spesies bernama Homo Sapiens Sapiens.

Setelah menyadari bahwa experiential design yang dimaksud bukanlah 70:20:10, namun selaras dengan Human Nature Development Model (10:20:40:30), pertanyaan berikutnya; Bentuk praktis dan nyata dari Experiential Design itu seperti apa sih? Sehingga katanya bisa dengan lancang dibilang: IF we can design the experience of human nature development, they may have INFINITE wisdom and perhaps THEY CAN CHANGE THE WORLD on their own.

SELESAI. Yeaayyyy
(Malas melanjutkan, jadi selesai ajah) 🤤

Sampurasun 🙏

From Instruction to Experience

Isteri saya sering kesal kepada buku masak atau acara memasak di TV, katanya resep masakan yang dia ikuti selalu gagal (kalo bahasa saya; gagal = sering, karena memang ga selalu tapi kebanyakan iya, hahaha), bolu ngga ngembang lah, cookies-nya gosong lah, supnya sepa lah, kolaknya neg-lah. Padahal katanya sudah diikutinya instruksinya langkah per langkah sesuai standar takaran, waktu, suhu, dsb. Syukurnya setelah 2 atau 3 kali mencoba, beberapa resep berhasil diwujudkan sesuai ekspektasi, itu pun isteri saya masih misuh-misuh; mestinya gulanya ga segitu, mestinya kuning telurnya tiga bukan dua, mestinya suhu ovennya 175 derajat, bukan 200 derajat, dan seterusnya mengkoreksi instruksi. Ya begitulah proses belajar memasak isteri saya.

Saya kira tak ada resep yang salah, mungkin di kondisi tertentu atau dengan cara tertentu, resep tersebut memang memiliki cita rasa yang disesuaikan dengan si pembuat resep, yang belum tentu sesuai dengan selera yang meniru resepnya. Dan yang saya amati, mungkin perlu penyesuaian terhadap gap cita rasa tadi, mungkin perlu eksperimen di luar resep untuk fine-tuning biar pas, mungkin perlu melibatkan ‘rasa’ seluruh indera, mungkin perlu niat untuk memasak agar jadi kebiasaan, mungkin perlu menumbuhkan makna memasak supaya menghayati proses belajar memasak.

Saya kira demikianlah sebagian cara dari banyak cara kita belajar, katakanlah resep masak sebagai instruction, dan mengalami memasak adalah experience. Mungkin kita sepakat dua-duanya sama pentingnya, instruction sebagai finite baseline, dan experience sebagai infinite timeline. Seperti halnya buku teknik sipil sebagai acuan para mahasiswa/dosen fakultas teknik sipil, mereka mungkin tak setuju seluruhnya dengan isi bukunya, namun setidaknya mereka perlu mengetahui baseline (dasar-dasar) keteknikan sipil, dan mungkin bonusnya bagi sang mahasiswa meraih gelar sarjana teknik sipil. Yang membedakan antara satu insinyur sipil dengan yang lainnya adalah experience yang adanya di infinite timeline (niat, makna, eksperimen, kalibrasi, kompromi, dsb).

Dalam konteks corporate setting, yang mana owner/manajemen memiliki ekspektasi terhadap hasil pengembangan (bahasa L&D-nya adalah development goal) yang diterjemahkan menjadi sasaran pengembangan (development objective), kemudian menjadi dasar perangkat pengembangan (development modules), sampai tingkatan kegiatan pengembangan (development activities). Semuanya dirumuskan dalam panduan instruksi (instructional guide). Instructional guide biasanya diperuntukkan bagi instruktur/fasilitator/trainer agar menyampaikan materi dengan terstruktur, tepat waktu, tepat sasaran, flownya pas, energinya tetap hidup, dan ujungnya efektif di dalam pengembangan formal (kelas/workshop/FGD/dll). Saya yakin semua profesional L&D telah sangat fasih dengan proses penciptaan efektivitas penyerapan pengetahuan menggunakan perangkat instructional design ini.

Beberapa penyelenggara pelatihan (walaupun sangat jarang, mungkin jumlahnya 1 banding 1.000.000 😊), menganggap (sadar atau tidak sadar) instructional design sebagai experiential designwhich.. well tidak salah karena instructional design merupakan bagian dari experiential design, dan untuk pengembangan yang sasarannya adalah peningkatan pengetahuan saja, boleh jadi pernyataan tersebut benar absolut 😉. Namun bila pernyataan tersebut kurang tepat (anggapan instructional design sebagai experiential design) karena sasaran pengembangannya juga termasuk keterampilan (skill) dan perilaku (behavior), lalu seperti apa experiential design yang dimaksud?

Bersambung
Sampurasun 🙏

Shifting to Learning as Experience

CEO: Do you know what the difference between consultant at your era and mine?
Saya: Er… You guys are older?
CEO: Haha nice try… At my era, we consultants being invited to dinner at 7, having wonderful meal, exchanging some nice words, and we say goodbye at 9 leaving the bill on the table. At your era, we consultants are living under the same roof with our client, sharing the same sofa and TV, listening to daily household affairs from grocery to paying bills, understanding the issues beyond surface, and then after a couple of weeks or more, we provide them the solution they really really need, not just some fancy decks of slides.

Inspirasi dari seorang CEO sebuah perusahaan konsultan global kala itu (tahun 2011), membuat angkatan kami yang masih unyu-unyu memiliki paradigma yang berbeda terhadap profesi kami, paradigma sebelumnya terhadap profesi konsultan yang snob (sombong), dan kadang smart-ass (keminter) yang fokus pada instruction (tell and advise); berubah menjadi fokus pada experience (coach), kami menceburkan diri dalam pengalaman sehari-hari menjadi bagian tak terpisahkan kehidupan sang klien, makan siang bersama, nonton bareng, bahkan seolah menjadi ‘pegawai’ perusahaan klien. I dress like them, talk like them, and live day in day out like them. Sampai pernah disapa security di lobby ‘Mas, TPP-nya (ID badge) hilang ya? kalo hilang saya kontak bagian umum, Mas NPP-nya (nomor pegawai) berapa?’.

Terus apa hubungannya cerita tadi dengan shifting to learning as experience?, mungkin tidak terlalu relevan untuk sebagian orang. Namun bagi saya pribadi, perubahan pendekatan dari yang telling/advising menjadi questioning/coaching memberikan dampak yang fundamental terhadap keseluruhan pengalaman (experience) pembelajaran dari klien. Mereka jadi lebih terbuka dan lebih percaya, mereka tidak merasa terintimidasi dan inferior, mereka merasa setara (tidak di atas sebagai pemberi kerja atau di bawah sebagai orang yang perlu dibantu), sehingga imbasnya mereka lebih dapat diajak kerja sama dan menghasilkan segala sesuatu dari sudut pandang yang lengkap dibanding hanya dari satu sudut pandang si konsultan saja (yang seringnya bahkan hanya _copas_ dari klien dengan menambah sedikit added value). Belakangan saya baru tahu hal tersebut dinamakan co-initiating, co-sensing, co-creating, dan co-evolving

Dalam konteks ini kita tidak akan menyinggung _tools_, namun lebih ke filosofi mendasar why we experience learning, kenapa sih seseorang belajar? Terutama dalam corporate setting. Ada banyak sekali referensi tentang motif seseorang belajar, dengan sudut pandang yang beragam, dari sudut pandang sosiologi, biologi, psikologi, neurologi, ekonomi, dan sebagainya. Tidak akan cukup satu minggu membahas teori motivasi manusia; satu hal yang hampir pasti: desain program baik yang seragam maupun yang sangat tailored masing-masing memiliki kemungkinan tidak akan mampu memotivasi semua orang. Mengapa? karena banyak dari desain program walaupun dibungkus dengan fun tetap memiliki subliminal message instructional, misalnya? schedule & timeline, rules & regulation, dos & don’ts, stick & carrot, efficiency consideration (capacity and batch management)

Analoginya dalam parenting, bila kita percaya setiap anak itu unik, one school for one child, mengapa kita tidak menerima saja, setiap orang membutuhkan jenis, topik, kedalaman, keluasan, kecepatan, percepatan, metode, pendekatan, latihan, aktivitas, lingkungan, channel, dan interaksi yang unik yang (hampir) tidak mungkin diseragamkan. Bila demikian, maka pengalaman (experience) pembelajaran setiap orang sifatnya adalah unik. Pertanyaannya, bagaimana kita mendesain pengalaman pembelajaran (learning experience design) bagi setiap orang?

Bersambung
Sampurasun 🙏