Unifying Epistemology and Ontology in a Context of Coaching (Part 3 of 3)

”All doing is knowing, all knowing is doing, and everything said is said by someone” -Donald J. Cunningham, Dynamic Constructivism

Proses integrasi epistemologi dan ontologi menuju whole being sebagai human being (human knowing + human doing) terkait erat dengan dengan satu kata: awareness atau kesadaran. Kata yang sering abai dari perbendaharaan kata kita, padahal awareness adalah titik awal observasi; yang mana pondasi epistemologi adalah observasi objektif, dan pondasi ontologi adalah observasi subjektif. Awareness adalah kapasitas human being menjadi pengamat, kembali ke fitrah spesies manusia Homo Sapiens Sapiens yang berarti manusia yang tahu bahwa ia tahu (observing the observation).

Kapasitas kesadaran observasi menjadi akar pemaknaan atas semua fenomena yang diterima manusia; sehingga tidak berlebihan, latihan mengembalikan kesadaran observasi seperti halnya mindfulness merupakan titik tolak transformasi makna eksistensi dirinya dan kemanusiaannya. Dalam bahasanya para spiritualis “know thyself, you’ll know thy God”, atau dalam bahasa para eksistensialis “know thyself, you’ll know thy-SELF”, atau bahasanya para universalis/multiversalis ”know thyself, you’ll know The Universe/ The Multiverse”. Prasyarat yang perlu dipahami di dalam ranah integral ini, tidak lagi berlaku ukuran-ukuran hukum sebab-akibat, benar-salah, baik-buruk, positif-negatif (dualitas) seperti halnya dunia sains, yang berlaku adalah hukum paradoks, netralitas, dan non-dualitas.

Lalu apa hubungan unifikasi epistemologi-ontologi ini dengan kepamongan atau coaching? Beberapa schools-of-thought seperti Integral Coaching yang diprakarsai James Flaherty dan Paul Anwandter mengadopsi falsafah unifikasi ini ke dalam praktek coaching-nya. Selain mengeksplorasi 11 kompetensi coach ICF, Integral Coaching membawa pemahaman Integral Theory-nya Ken Wilber ke ranah practice (untuk tidak disamakan dengan istilah practical/praktis); yaitu melatih awareness/kesadaran untuk mengobservasi observasi (observing the observation)

Menjadikan kapasitas observasi sebagai pondasi coaching integral adalah sebuah upaya untuk mengakses kesadaran manusia yang pada dasarnya adalah makhluk pembelajar dan adaptif. Beberapa contoh pertanyaan Integral Coaching (tentu tidak relevan bila tidak dikaitkan dengan konteksnya) seperti: “Apa yang kamu perhatikan saat dirimu melakukan/merasakan hal itu?” adalah proses menggeser perspektif coachee agar menjadi pemerhati dunia pengetahuannya (epistemologi) dan dunia keberadaannya (ontologi) sebagai provokasi menukil kesadaran barunya yang lebih luas dari yang ia pernah tahu dan yang selama ini ia jadikan identitas dirinya.

Respon dari observasi atas pengetahuan masa lalu-nya dan identitas masa kininya disebut dengan kearifan (wisdom) masa depannya yang tidak berlaku kecuali untuk dirinya sendiri, juga tidak dapat ditularkan dan diajarkan kepada orang lain, seperti observasi Herman Hesse dalam tulisan di bukunya Siddharta:

“Wisdom cannot be imparted. Wisdom that a wise man attempts to impart always sounds like foolishness to someone else … Knowledge can be communicated, but not wisdom. One can find it, live it, do wonders through it, but one cannot communicate and teach it.” (“Kearifan tidak dapat diajarkan atau dibagikan. Kearifan dari seseorang yang coba diajarkan akan terdengar seperti sebuah kebodohan bagi orang lain… Pengetahuan dapat disampaikan, namun tidak dengan kearifan. Seseorang akan menemukannya, menghayatinya, mengalami ketertakjuban olehnya, namun ia kemudian sejatinya tak akan dapat menularkannya apalagi mengajarkannya“)

Sampurasun 🙏

Advertisements

Unifying Epistemology and Ontology in a Context of Coaching (Part 2 of 3)

”There must be a reason why we are being called human being, not human knowing, nor human doing” – From the Love of Wisdom, a New View of Being Human

Lepas dari jaman kegelapan abad pertengahan di Eropa, berganti peradaban Renaissance yang menyebar ke seluruh dunia, peradaban yang ‘menuhankan’ ilmu pengetahuan serta logika, melahirkan rasionalisme, revolusi industri, perjalanan ke bulan, hingga kloning manusia; rasanya ada yang kurang, jika tidak mau disebut hilang. Jiwa yang haus di sahara tidak terbatasnya potensi manusia, jiwa yang kosong di belantara materialisme, dialektika, dan logika.

Tidak sedikit filsuf yang menuangkan konsep integrasi sains dengan spiritualitas untuk mengisi rasa haus dan kekosongan, di antaranya Ken Wilber dengan buku Integral Theory, dan The Marriage of Sense and Soul – Integrating Science and Religion. Ada pula Richard Barrett yang beranjak dari pondasi values ke bahasan Ego-Soul Dynamics. Kemudian ada Dalai Lama berbicara tentang The Convergence of Science and Spirituality. Terence Nichols mengulas The Sacred Cosmos. Kenneth Miller menulis Finding Darwin’s God. Edward Wilson dengan buku The Meaning of Human Existence. Don Beck dengan konsep Spiral Dynamics. Dan yang terakhir Otto Scharmer dengan konsep The Epistemological and Ontological Systems Theory.

Kesimpulan? there are more beyond science. Ada elemen pelengkap yang mampu mengisi kekosongan, yang lepas dari batas teritori definisi, benar-salah, baik-buruk. Bagaikan yin dan yang, siang dan malam, laki-laki dan perempuan; spiritualitas dan sains; para filsuf tadi sepakat hal itu bukanlah dualitas perbedaan, tetapi unitas satu-kesatuan; tanpa penerimaan keduanya, manusia bagai makhluk bersayap satu yang tak bisa terbang

Apa hubungannya dengan coaching? Julio Olalla, pakar Ontological Coaching mengatakan hendaknya coaching tidak sekedar berpijak pada sains teknis rasional (objektivitas statis) yang beroperasi di tataran ‘knowing’, namun juga pada proses interaktif kontekstual (konstruktivitas dinamis) yang beroperasi di tataran ‘being’, sebuah proses co-creation yang tidak semata berdasar pembuktian empiris, tetapi juga bersumberkan dari kearifan (wisdom), the inner resources from human being’s deepest consciousness. Paradoksnya, tidak akan ada kearifan tanpa sains/pengetahuan, dan sains/pengetahuan yang tercipta tanpa kearifan akan mencerabut nurani manusia dari makna kemanusiaannya.

<bersambung>

Unifying Epistemology and Ontology in a Context of Coaching (Part 1 of 3)

”Throughout the course of our lifetime, we sure know a lot (I mean a lot) of things… The question is, to what extent have we put our knowing into context with our being?” (2017 reflection)

2017 bagi saya pribadi adalah tahun yang diwarnai tantangan baru, pembelajaran baru, keterhubungan baru, dan kesadaran baru. Bermula dari persinggungan dengan dunia baru bernama coaching, bertemu dengan orang-orang hebat di komunitas coaching di Indonesia, termasuk ICF Jakarta. Saya belajar banyak dari mereka tentang berbagai jenis pengetahuan yang seolah tiada habisnya; mereka semua memiliki tujuan mulia yang ‘sama’, yaitu memberdayakan potensi terbaik manusia. Dan saya sangat bersyukur karenanya.

”There will always be more good ideas than our capacity to execute it” Stephen R. Covey
Dan memang demikianlah benar adanya kata almarhum maestro pemberdayaan insani Stephen Covey, epistemologi atau sains kognitif yang saya pelajari seperti design thinking, integral theory, mindfulness, psikometri, Theory-U, logotherapy, neuroscience, psychoanalysis, action learning, generative listening, spiral dynamics, embodied cognition, systems thinking, systems theory, learning organization, well-being, emotional intelligence, mindsight, gestalt therapy, consciousness theory, appreciative inquiry, followership, learning technology, change theory, positive psychology, beberapa cabang filsafat dan studi religi, dan sebagian besar lainnya mengenai coaching; dari semua ketertakjuban akan ilmu itu yang saya tidak tahu apakah saya memahaminya dengan benar atau salah; yang jelas hanya sedikit saja yang saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Paul Arden mengatakan It’s Wrong To Be Right, being right is based upon knowledge and experience and is often provable. However, knowledge comes from the past, so it’s safe and it’s also out of date. It’s the opposite of originality and creativity. Being right is also being boring, our mind is closed, we are not open to new ideas, we are become defensive on our rightness, which is arrogant.

Di Tahun 2017, saya rasanya lebih sering arogan mengetahui atas sedikit yang saya tahu, namun kenyataannya saya tidak sepenuhnya menjadi dan menjalani apa yang saya tahu; saya mungkin menguasai sedikit pengetahuan yang sebenarnya masa lalu itu, namun sering cukup puas berhenti sampai di situ.

Berdasarkan refleksi tahun lalu itu, saya mohon ijin bertanya pada diri sendiri; bagaimana epistemologi (ranah pengetahuan/ field of knowing) yang selama ini saya pelajari, dapat manunggal dengan ontologi (ranah kemenjadian/ field of being)? Sehingga peran selaku pamong, paripurna dalam mengetahui titik buta dirinya, dan kiranya bonusnya adalah menjadi cermin atas titik buta coachee-nya.

Seperti halnya kata Sri Susuhunan Pakubuwana VI dalam Serat Wulang Reh; “ngelmu iku kalakone kanthi laku” (cara menguasai ilmu itu adalah dengan melakukannya)

<bersambung>

A Brain-Based Approach to Coaching – Part 3/3

Berdasarkan pemahaman di tulisan sebelumnya dari sudut pandang secara neurosains; pola pengembangan yang interventif dan induktif seperti training, mentoring, consulting, advisory terutama yang tidak voluntary, atau ‘coaching’ yang bias dengan pertanyaan leading bahkan tercampur covert-hypnosis, ditambah delivery program coaching di organisasi banyak yang sifatnya diwajibkan (mandatory), mengakibatkan reaksi OFC semakin kuat untuk fight (menolak terang-terangan) atau flight (tidak ikut atau ikut terlibat tapi tidak menjiwai)

Tindakan interventif dan induktif terbukti secara ilmiah kurang efektif (kalau tidak mau disebut tidak efektif) bahkan boleh jadi kontra-produktif, a waste of time, a waste of money, and a waste of energy, selain itu intervensi kemungkinan besar tidak sustainable karena inisiasi tidak berasal dari dirinya sendiri sehingga ownership tidak terjadi, apalagi mengharapkan involvement yang berujung pada engagement.

Sebagai rujukan subjektif, tahun lalu organisasi kami melalui Corporate University-nya mencoba mengukur produktivitas salespeople sebelum dan sesudah sesi motivasi oleh seorang motivator yang cukup terkenal. Hasilnya? ternyata tidak ada peningkatan motivasi (dari proses mystery-interview dan ukuran Net Promoter Score), bahkan setelah beberapa lama motivasi justru semakin menurun ditandai dengan engagement score, dan moment-of-truth yang paling menyedihkan adalah tidak ada peningkatan kinerja di lapangan selepas sesi yang didominasi (maaf) joget-joget, yell-yell, nyanyi-nyanyi, dan teriak-teriak seharian ditambah cerita sukses diri sang motivator atau orang lain yang seolah relevan dalam ceramah satu arah. Konklusi? Kami drastis mengurangi program-program pengembangan semacam itu.

Kami sekarang mulai mengerti dari kajian neuro-physiology; yang pertama adalah mengapa setiap orang perlu mendapatkan jawaban dari dalam dirinya sendiri atas situasi yang dihadapinya. Dan yang kedua adalah mengapa fokus pada solusi masa depan lebih digdaya (powerful) dibanding tenggelam mengurai benang kusut masalah masa lalunya. Kami akhirnya juga memahami mengapa belajar keterampilan baru memerlukan waktu yang sedikit lebih lama, dan bagaimana respon berupa komplimen dan gestur positif (yang tulus) berdampak baik pada regenerasi syaraf otak dalam proses pembelajaran mereka.
Sebagai penutup tulisan ini, yang membuat kami tersadar dari tidur panjang (atau ditidurkan oleh pelbagai konsep pengembangan insani yang kurang empiris secara neuro-logical) adalah sebuah studi mekanika kuantum mengenai dampak pertanyaan terbuka terhadap kualitas interkoneksi antar syaraf yang saling berkomunikasi. Ternyata pertanyaan terbuka (with note, bukan pertanyaan yang leading atau covert) secara menakjubkan mampu mengubah pola interkoneksi lama dan menciptakan interkoneksi-interkoneksi baru dengan area-area lain di otak yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Eviden ini kemudian dikenal dengan efek neuro-plasticity, kemampuan otak untuk meregenerasi dirinya sendiri melalui disiplin atensi. Disiplin atensi seperti mindfulness, energi presence-nya mampu meregenerasi sirkuit syaraf yang telah lama mati, dan aplikasi disiplin atensi dalam powerful questioning (bukan powerful question) mampu mengaktifkan respon keseluruhan bagian otak (whole-brain response)

So, coaching does work… and we now better understand why, neuroscientifically… 😉

Sampurasun 🙏

18 Kapat 1951 Çaka

A Brain-Based Approach to Coaching – Part 2/3

Bagi yang telah cukup lama berkarir di organisasi terutama di fungsi pemberdayaan insani (human capital atau learning division) mungkin tidak terlalu asing dengan cabang ilmu change theory, systems theory, learning theory, positive psychology, dan philosophy. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari kebutuhan yang didorong oleh tantangan terhadap perubahan tentang bagaimana organisasi dianalogikan dapat menjadi ‘sistem hidup’ yang belajar berubah dengan sendirinya (learning organisation). Learning Organisation memiliki prasyarat utama yaitu adanya unsur pemberdaya/ enabler bernama manusia yang adaptif. Sehingga bagaimana membentuk manusia yang memiliki intensi/ motivasi untuk selalu beradaptasi (bukan sekedar berubah). 

Dan rasanya para pemberdaya insani sangat perlu mendalami neuroscience untuk memahami bagaimana mendesain arsitektur, strategi, program, project, hingga aktivitas proses bisnis ‘human capital’ yang neurophilosophical by design

Dalam sebuah dialog antara David Rock (pencetus Brain-Based Coaching) dengan Dr. Jeffrey M. Schwartz (psikiater, pakar neuroscience, dan penulis banyak buku best-seller seputar neuroscience, di antaranya adalah You Are Not Your Brain dan The Mind and The Brain) ditemukan fakta menarik mengapa tantangan organisasi untuk menjadi learning organisation terletak pada sub-sistem terkecilnya yaitu mental mendasar setiap manusia.  

Menjawab pertanyaan David tentang mengapa perubahan itu sangat sulit, Dr. Schwartz menjelaskan bahwa pada syaraf setiap manusia, otak didesain untuk mendeteksi perubahan dan mengirimkan peringatan untuk memberitahukan apapun yang tidak biasa. Deteksi ini dilakukan bagian otak bernama orbital frontal cortex (OFC) yang mana OFC adalah bagian dari prefrontal cortex (PFC) tempat intelegensi dan pembelajaran baru berada. OFC memiliki akses ke amygdala dan lymbic, sehingga respon stimulus yang ditangkap oleh OFC da diteruskan ke amygdala dan lymbic mendorong seseorang untuk menjadi emosional dan impulsif, dan ujungnya insting hewani-lah yang mendominasi; insting hewani ini biasanya berupa reaksi fight (melawan) atau flight (kabur). Hal ini menjelaskan mengapa aktivitas mengubah rutinitas akan mengaktivasi OFC untuk memberi pesan bahwa ‘sesuatu tidak benar’, pesan ini di-desain untuk mendistraksi atensi, dalam kondisi yang paling akut adalah OCD (obsessive compulsive disorder). Dalam eksposur yang panjang dan konstan kebiasaan fight or flight ini akan menjadi baseline behavior seseorang yang polanya kemudian di-hardwire di dalam otak.

Itulah mengapa kemudian latihan EQ untuk mengaktifkan PFC seperti halnya mindfulness merupakan salah satu cara untuk me-rewire the brain, sehingga tidak berlebihan Daniel Goleman mengatakan “mindfulness will not work without Emotional Intelligence”; dalam konteks coaching, seseorang yang diidentifikasi ‘belum’ memiliki EI memerlukan effort extra untuk menemukenali intelegensi emosi ‘diri’-nya. Effort ini boleh jadi merupakan proses coaching itu sendiri, namun juga tidak menutup kemungkinan adalah terapi (baik neuro-physiological therapy maupun neuro-psychological therapy

Sidenote, pertanyaan: “adakah orang yang tidak coach-able?”

Yang menarik adalah, perlu disadari oleh para coach, bahwa semakin seorang coach mencoba mengubah seorang coachee, semakin kuat juga coachee tersebut melawannya. Efek ini dinamakan homeostasis, dan biasanya kondisi homeostasis terjadi dalam sesi terapi, atau sesi terapi dibungkus coaching dengan pertanyaan leading atau covert-hypnosis. OFC mampu mendeteksi manipulasi yang paling halus sekalipun dan memberikan warning untuk kembali ke baseline fight or flight.

<bersambung>

Sampurasun 🙏

A Brain-Based Approach to Coaching – Part 1/3

“It does need a title in Ph.D to really understand neuroscience, seriously” Itu impresi pertama saya ketika membaca buku wajib para neuroscientist “NEUROSCIENCE” karangan Dale Purves _et. al._ (Link). Neuroscience (selanjutnya disingkat NS) adalah ilmu yang sangat luas dan dalam, mungkin boleh dengan lancang saya simpulkan bahwa ilmu ini adalah ilmu untuk memahami manusia bahkan untuk memahami semesta. Mengapa? Karena NS merupakan ilmu multidisiplin mulai dari anatomi, biokimia, biologi molekular, fisiologi syaraf, farmakologi, psikologi, medis, hingga fisika kuantum dan mekanika kuantum. Serius deh, kayaknya memang perlu gelar Ph.D untuk benar-benar memahami NS. “…and it perhaps need an ICF’s MCC level to actually embodied the science, skill, and soul of applied neuroscience application in evidence-based coaching”

Tanpa mengecilkan perjuangan diri untuk menapaki tangga pertama dari infinitas pengetahuan NS, ijinkan saya berbagi pemahaman dari sebuah riset ICF/IJCO berjudul Brain-Based Approach to Coaching, sebuah landasan teori aplikasi NS dalam dunia coaching. Saya rasa artikel ini perlu dibaca oleh mereka-mereka yang bersentuhan dengan dunia pemberdayaan insani, terutama di ranah kepamongan (coaching), dengan beberapa alasan; 

    Alasan yang pertama adalah dari sekian banyak schools of thought di dunia coaching dengan model dan pendekatan masing-masing, semua mengatakan bahwa coaching bermanfaat, namun tidak ada kerangka teori yang dapat menjelaskan secara komprehensif mengapa kita membutuhkan coaching. Kegagalan memahami alasan pertama ini sering menjadi kendala utama dalam menjelaskan epistemologi coaching kepada para pengambil keputusan yang kemungkinan besar memiliki pengetahuan akademik, dan pengalaman praktis yang segudang, sebelum implementasi coaching di sebuah organisasi disetujui.

    Alasan yang kedua adalah, hampir semua (termasuk saya) prakademisi (praktisi-akademisi) pemberdayaan insani (human being empowerment) memerlukan sebuah disiplin fondasi yang lebih solid dan ilmiah dibanding (maaf) dunia psikologi yang landasan historisnya campur baur antara sosiologi, psikometri, terapi, dll.

    Dan alasan yang ketiga adalah; NS, evidence-based, dan brain-based merupakan sains yang terukur, terkontrol, memiliki variabel yang pasti, sehingga bagi para pengambil keputusan yang rasional, ilmiah, dan akademis, pendekatan NS akan memuaskan kedahagaan mereka mengenai argumentasi ilmiah ‘mengapa harus coaching sih’ yang seolah tak pernah usai.

    Tentu saja bila kita berbicara dunia sains (epistemologi) yang fokus pada field-of-knowing, maka ada satu sisi lagi yaitu dunia kearifan (ontologi) yang fokus pada field-of-being, namun akan dibahas terpisah (ga janji) 😄

    <bersambung>

    Sampurasun 🙏

    Being The Resolution Itself Part 2 of 3

    Intent is not a thought, nor an object, nor a wish, nor an expectation.
    Intent is what make someone proceed when thoughts and emotions tell him/her to retreat for salvation.
    Intent is what make someone stays observant when mind and ego tell him/her to drift in judgment.
    Intent operates in complete acceptance despite of one’s indulgence.

    Intent is openness to be vulnerable yet paradoxically makes someone stronger
    Intent is what makes someone invulnerable in any given situation

    Intent is what sends a man lifted to the sky, through space, to infinity of heaven
    Intent is not our creation, it is The Universe gift within our soul, that emerges when we listen and pay close attention

    It is always here, but it’s not about a question of existence
    it is always now, but it’s not about a question of an instance

    It is a moment of presence, it is a space of silence…

    Questioning intention (biasanya) ‘agak’ luput dari eksplorasi jika pisau bedah coachingnya terkerangka terlalu teknis-rasional. Intention adalah bahasan spiritual dan non-linier yang jika dibedah dengan kerangka yang rasional dan linier, saya rasakan jadi agak kurang ‘berasa’. Menurut Dr. C. Otto Scharmer intention is the root of human motivation –> action follows attention, attention follows intention, and intention is the being of resolution itself, tanpa sang coachee menghadiri dan menghidupi intentionnya, maka sejatinya pondasi perhatian dan tindakannya hanyalah sebatas imajinasinya (referensi: Intention and Attention in Consciousness Dynamics and Evolution: https://goo.gl/ftYDsi)

    Paradoksnya, questioning intention seperti halnya menggali alasan yang tercipta oleh resonansi limbik dalam istilah neurosains (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Limbic_resonance), tataran yang mampu di-ases ada di tataran rasa (irasional), bukan di tataran kata (rasional). Seperti misalnya ketika kita ditanya “Apa yang membuatmu jatuh cinta kepadanya?”, mungkin tak ada jawaban yang mampu merepresentasikannya dalam bentuk kalimat rasional, hanya ia terasa sedemikian kuatnya di luar batas kata-kata, hal ini diulas lebih lengkap dalam buku Thomas Lewis A General Theory of Love (https://en.m.wikipedia.org/wiki/A_General_Theory_of_Love)

    Dalam kasus intention ini, pendekatan coaching yang puritan akan berupaya menghindari perangkaan, menurut mereka kerangka kemungkinan besar tidak merepresentasikan the uniqueness of coachee’s context dan akan menyempitkan spektrum eksplorasi, karena walaupun ekspresi yang ditampilkan bisa jadi mirip, tetapi the inner dimension of experience setiap individu kemungkinan besar berbeda. Tentu saja dengan catatan dari sudut pandang coach metodis bahwa subjective experience is… well… subjective!

    Dibanding bertanya perangkaan yang bersifat modeling “If you are him/her, what would you think?” pendekatan puritan cenderung akan menanyakan “What is your own asssessment towards what you really need to do/be?”

    Beranjak dari questioning intention, bilamana resonansi intensi/motivasi (WHAT) telah muncul ke permukaan dan tersaji di hadapan coach dan coachee secara otentik apa adanya; tahap selanjutnya kemungkinan dapat menempuh pola seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah coaching, yaitu mulai masuk ke ranah identifikasi dan ekplorasi seberapa jauh tujuan akan dicapai (WHERE), bagaimana cara mencapainya (HOW), kapan (WHEN), sumberdaya/siapa yang dibutuhkan untuk melakukannya (WHO), dikomparasi dengan peta navigasi bernama jeda (GAP) antara current realities dan future possibilities.

    Sampurasun 🙏